the culture

Sebenernya ini cerita lama tentang elegi kemiskinan di negeri ini. Belakangan ini gue nggak Cuma peduli soal marketing, tapi juga dunia sosial kita yang bikin gue makin tersentuh, sekaligus terganggu. Koreksi gue kalau salah, tapi selain merasa kasihan sama pengemis, gue juga bete yah sama mereka? Gue merasa mereka itu…. Pemalas…

Enak banget mereka tinggal nadahin tangan, sementara orang lain harus berdarah-darah kerja keras cari uang. Emang sih, kita Cuma ngasih receh. Tapi, jumlah pengemis di negara ini makin mengkhawatirkan… belum termasuk jumlah pengamen, anak jalanan, dll. Maksud gue, kenapa enggak nyontoh temen-temennya yang jadi tukang becak, tukang bakso, atau bahkan tukang sol sepatu. Orang-orang itulah yang lebih pengen gue bantu… (antara lain dengan enggak nawar…). Sekarang bahkan gue nggak pernah beli majalah di toko buku, tapi selalu ke pedagang koran di pinggir jalan. Itu salah satu cara terbaik untuk membantu UMKM!

Salah satu yang menarik adalah bahasan di salah satu talkshow di metro tV, tentang kemiskinan yang turun-temurun (jadi, neneknya pengemis, anaknya minta-minta, cucunya jadi anak jalanan…). Seakan-akan itu tuh mental yang sudah mengakar dan akan terus-menerus berlanjut ke generasi selanjutnya… (sama kayak mental koruptor). Gue sering lihat loh anak kecil yang semangat banget untuk ngemis. Sudah nggak perlu disuruh lagi, mereka memang punya inisiatif sendiri! Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan? Pemerintah lagi??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s